in

Membaca Ramalan dengan Mitos Croesus dan Cassandra

Mengapa manusia menyukai “membenarkan” ramalan? Sikap kita dalam menghadapi masalah sekarang, menentukan bagaimana kita akan dikenang anak-cucu.

"Cassandra", karya Dante Gabriel Rosetti (1828 - 1882)

Kamu merasa tidak menyukai ramalan? Yang pasti, banyak “ramalan” tentang masa depan, sering kita abaikan, karena kita mencari kenyamanan dan mengabaikan beratnya agenda anak-cucu mendatang. Kita bisa belajar bagaimana menyikapi “ramalan” dari mitos Croesus dan Cassandra.

Mitos Croesus dari Lydia

Croesus, raja Lydia terakhir, berkuasa sekitar tahun 595-546 SM. Croesus terkenal bijaksana, murah hati, berhubungan dekat dengan para filosof Yunani. Croesus menjadi legendaris karena kekayaannya. Croesus datang ke Oracle dari Delphi untuk mengetahui nasibnya. Oracle dari Delphi memberikan “prophecy” (ramalan): jika dia menyerang Persia, dia akan menghancurkan sebuah kerajaan besar. Croesus menafsirkan jawaban ini, menyangka akan mengalahkan Persia. Sebaliknya. Lydia diserang Persia di bawah Cyrus Agung, dan Croesus ditangkap. Croesus tidak mati, namun kerajaan Lydia sudah hilang. Croesus memiliki kekayaan dan kemakmuran, namun tidak mengerti masa depan, dan bersikap tidak kritis terhadap ramalan. Croesus ingin membenarkan ramalan dengan interpretasi yang menguntungkan dirinya, namun ternyata sebaliknya: rakyat dan kerajaan menjadi korban. Croesus berakhir menjadi pekerja bagi musuhnya.

Mitos Cassandra dari Troy

Cassandra, putri Raja Priam dari Troy, memiliki kecantikan memikat, cerdas, dan karisma mempesona. Apollo, dewa cahaya, kebenaran, dan pintar menurunkan “prophecy” (ramalan) menjadi terpesona pada Cassandra.

Awalnya, Cassandra menolak Apollo, karena sudah punya segalanya. Cantik, pintar, punya karisma, seorang putri raja, membuatnya merasa tidak lagi membutuhkan dewa.

Apollo memberinya sesuatu yang -belum- dimiliki Cassandra. Kemampuan melihat masa depan. Cassandra di tengah jalan, menolak cinta Apollo.

Merasa tersinggung dan kecewa, Apollo mengeluarkan kutukan.

Cassandra akan bisa meramal masa depan, sekaligus tidak ada seorangpun yang akan percaya ramalan Cassandra.

Kutukan Apollo terbukti. Karena dia Apollo.

Cassandra benar dalam meramal. Cassandra meramalkan bencana, tentang Trojan Horse (Kuda Troya) yang akan membuat Troy kalah, serta ramalan tentang perjalanan pulang Agamemnon akan berakhir dengan tragedi (Agamemnon ditawan dan dibunuh), semuanya benar,. Hanya saja, tidak ada yang percaya ramalan Cassandra.

Cassandra kesepuan, kesulitan, karena pengetahuan tentang massa depan tidak membuat orang percaya. Refleksi tragis tentang bagaimana kebenaran sering kali ditolak orang, karena tidak sesuai dengan selera dan emosi penerima.

Croesus tipikal orang yang “tidak tahu” masa depan, sekaligus tidak kritis. Cassandra mewakili para ilmuwan yang mampu melihat masa depan, di tengah publik yang tidak mau menerima “kebenaran”.

Kecenderungan Membenarkan Ramalan

Orang menyukai “ramalan” (prophecy). Kita sering dengar, “Benarkah katanya akan ada begini..”. Sejarah membuktikan itu. Banyak peperangan, kejahatan, dan kekejaman terjadi karena orang/kelompok mempercayai ramalan, yang akan membenarkan tindakan mereka.

Apa saja kekerasan dalam sejarah, yang tergerak karena ramalan?

Pembersihan etnis yang dilakukan Nazi di bawah Hitler, menggunakan ramalan dan ideologi rasis, untuk membenarkan kekejaman holocaust dan genocide. Mereka mengklaim, bangsa Arya adalah “bangsa terpilih” yang ditakdirkan untuk menguasai dunia.

Jepang menguasai Asia Timur (1932-1945, Asia Timur) dengan militerisme yang percaya kemahakuasaan Jepang, yang membenarkan ekspansi mereka ke China, Korea, dan negara-negara lain, selama Perang Dunia II.

Spanyol menaklukkan Amerika Latin (Abad ke-16) berdasarkan “mandat ilahi” untuk mengkristenkan penduduk asli. Terjadilah pembenaran untuk kekerasan, perbudakan, dan penindasan budaya terhadap penduduk asli.

Perang Salib di Eropa dan Timur Tengah (1096-1291) adalah ekspedisi militer Eropa setelah seruan Paus Urban II, yang mengumumkan bahwa merebut Jerusalem adalah kehendak Tuhan. Perang Salib menjadi perang agama dan kekejaman terhadap penduduk setempat: Muslim, Yahudi, dan Kristen Ortodoks Timur.

“Ramalan” menjadi alat propaganda untuk membenarkan kebijakan yang brutal dan destruktif, manipulasi keyakinan untuk tujuan politik, eksploitasi kepatuhan massa untuk tujuan sempit, dengan akibat tragis.

Abad ke-15 sampai Abad ke-18, Eropa dan Amerika sibuk “memburu penyihir”, sebagai alasan untuk menindas, menyiksa, dan membunuh orang. Perempuan bisa dengan mudah dituduh sebagai penyihir, hanya karena pakaian dan kebiasaan sederhana. Mereka menjadi korban histeria massa, prasangka, dan ketidakpahaman terhadap penyakit atau fenomena alam.

Pemberontakan Taiping (1850-1864) di China, terjadi karena Hong Xiuquan, pemimpin Pemberontakan Taiping, mengklaim dirinya sebagai adik dari Yesus Kristus, setelah mendapat wahyu dari Tuhan. Jutaan orang mati akibat perang ini.

Perbudakan di Amerika (Abad ke-17 sampai Abad ke-19) menggunakan alasan religius dan ramalan yang membenarkan praktik perbudakan.

Krisis Milenium Y2K (Tahun 2000) datang bersama ramalan bahwa akan terjadi bencana global tepat di pergantian meilennium (tahun 2000). Jam komputer akan salah membaca tahun 2000 (atau 00) menjadi tahun 1900 (sama, dengan 00), yang akan membuat komputer di bank dan layanan publik akan mengalami kemacetan total. Ramalan kekacauan global ini dipakai beberapa kelompok untuk mempromosikan kepanikan dan menjual produk untuk bertahan hidup, dan layanan konsultasi. Tentu saja, ramalan ini tidak terbukti.

“Ramalan” menjadi pembenaran tindakan, secara sepihak.

Status Ontologis Ramalan (Prophecy)

Menurut Plato, “prophecy” merupakan bagian dari dunia ide, realitas sejati di luar pengalaman sensorik manusia. Aristoteles, yang empiris dan logis, lebih suka pengamatan dan analisis, tidak mau menerima ramalan. Tanpa observasi dan bukti, yang terjadi hanya klaim tak-terverifikasi yang tidak layak kita percaya. David Hume juga tidak percaya ramalan. Immanuel Kant, yang rasional, hampir sama, tidak percaya ramalan supernatural. Kant percaya kalau pengetahuan dan moralitas harus berakar pada akal budi manusia. Ramalan, bagi para filsuf kontemporer, merupakan fenomena linguistik, psikologis, dan menunjukkan bahwa ramalan itu dibentuk, dipercaya, dan berdampak pada perilaku manusia, bukan sebagai fenomena ontologis yang literal.

Mengapa Banyak Manusia Percaya Ramalan?

Manusia ingin menceritakan “kejayaan masa lalu” sekaligus “mengendalikan masa depan”. Ramalan memberikan prediksi, kepastian akan terjadinya masa depan yang membutuhkan “arah” dan “jalan” ke sana.

Ramalan memberikan kesan mengendalikan masa depan yang masih misterius dan tak-terduga.

Ramalan sering membangkitkan respon emosional yang kuat, baik harapan untuk hasil yang baik maupun ketakutan terhadap hasil yang buruk. Emosi ini dapat mengaburkan penilaian rasional, mengistirahatkan pikiran.

Tidak semua orang mampu, tidak semua orang berpengetahuan cukup, untuk mempertanyakan ramalan, secara kritis. Etnis atau budaya yang banyak menceritakan ramalan yang “terbukti”, sangat kuat ditanamkan sejak lahir, akhirnya membuat orang memilih menerima (belum tentu percaya) tanpa sikap kritis.

Ramalan memberikan “arah”: kalau jalan buruk, pakai rute alternatif, sebisa mungkin agar ramalan tidak terjadi. Jika kuat dan bermanfaat, mereka “membenarkan” ramalan itu.

Ramalan merupakan ketergantungan terhadap otoritas tradisional, seperti norma sosial dan “primbon”.

Ramalan yang “self-fulfilling”, membuat orang secara tak-sadar memenuhi ramalan itu, serta membuat ramalan itu menjadi benar. Contoh kasus, pada cerita “Oedipus”.

Orang yang pernah melihat ramalan terbukti dan bekerja dalam hidupnya, menjadi sangat percaya ramalan, sekalipun ramalan itu terlalu jauh (pembuktian waktunya) atau dipas-pasin. Ini dianggap sebagai “pengalaman positif”, yang membuat ramalan berikutnya akan lebih efisien untuk diterima, tanpa kritik.

Ramalan menciptakan pola. Sangat sejalan dengan pikiran manusia yang selalu bertanya, “Bagaimana polanya? Apa yang akan terjadi, kalau begitu?”. Pola membawa orang pada koneksi, keterhubungan, dan sangat meyakinkan. Fakta: banyak hal acak (random) yang dianggap berpola.

Nicholas Nassim Taleb menulis _Incerto_ tentamg bagaimana menghadapi ketidakpastian dalam hidup.

Ramalan juga bisa menjadi bagian dari narasi bersama atau budaya. Ketika ada ramalan “Pak X akan menjadi pemimpin di desa ini”, terjadilah perbincangan.

Tidak semua orang mau berpikir kritis, berpikir lateral, dan berpikir divergen. Mereka bahkan kesulitan memahami konsep probabilitas dan kemungkinan. Akhirnya, orang tidak mau _clue_, tidak mau petunjuk, tidak mau diberitahu cara-kerja variabel yang saling berhubungan.

Semakin detail dan spesifik, ramalan semakin menantang. Jika suatu ramalan bersifat umum, tidak lagi dianggap valid. Kalau sangat spesifik dan ternyata benar, maka ramalan akan dipilih. “Sudah, tidak usah banyak teori. Menurutmu, nanti malam 2 angka yang keluar apa?”.

Ramalan mereduksi kerumitan menjadi pesan, nasehat, dan hal yang mudah diingat. Anekdot, penuturan yang penuh bias, dan rumor, sangat memainkan peran kuat dalam membentuk ramalan.

Orang sudah tahu, Cassandra benar dalam meramal, namun publik tidak percaya. Jangan jawab, “Ini karena gift dari Apollo”. : ) Para ilmuwan memprediksi “global warming”, cerita tentang sampah plastik, dan energi terbarukan. Mereka tidak mau percaya.

Mitos Menurut Barthes

Roland Barthes, dari Prancis, memiliki pandangan unik tentang “mythos”.

Barthes menjelaskan “mythos” di buku _Mythologies_ (1957).

  • Mitos adalah cara bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu yang berkaitan dengan budaya dan ideologi.
  • Mitos bukan hanya cerita tentang dewa-dewi atau legenda kuno, tetapi juga citra-citra, simbol, dan representasi dalam kehidupan sehari-hari yang membawa makna khusus dalam masyarakat.
  • Mitos adalah bentuk komunikasi yang menyembunyikan asal-usul historis dan kebenarannya, mengubah sejarah menjadi alam, dan dengan demikian, menormalisasi konsep atau ide tertentu dalam masyarakat.

Status “mitos” ini terjadi pada cerita Croesus dan Cassandra.

Metode Barthes dalam Membaca Mitos

Dekonstruksi Semiotik

Gunakan semiotika untuk membaca mitos. Bedakan antara tanda (sign), penanda (signifier), dan petanda (signified).

Dalam mitos, tanda (objek, konsep, atau citra) digunakan dalam cara yang menyembunyikan hubungan sebenarnya antara penanda (bentuk fisik tanda, seperti kata atau gambar) dan petanda (konsep atau makna di balik tanda).

Menurut Barthes, pada praktiknya, “petanda” itu tidak ada. Yang ada hanya “penanda”.

Fokus pada Ideologi

Barthes menganggap mitos sebagai alat yang menyampaikan ideologi dominan dalam masyarakat. Mitos beroperasi untuk menormalisasi ide-ide tertentu, membuatnya tampak alami dan tidak terhindarkan.

Analisis Budaya Kontemporer.

Barthes sering menganalisis elemen-elemen budaya kontemporer, seperti iklan, film, atau fotografi, untuk mengungkap cara mitos dibentuk dan difungsikan dalam konteks modern.

Kita bisa menggunakan pembacaan mitos versi Barthes ketika menganalisis iklan, brand tertentu, apresiasi film, dan membaca karya sastra.

Ketika membaca Croesus dan Cassandra, dengan metode Barthes, tanyakan ini:

Bagaimana menganalisis elemen-elemen cerita menjadi simbol alat bagi ideologi dan nilai-nilai budaya tertentu?

Membaca Kembali Mitos Croesus dan Cassandra

Croesus seperti para pengguna Google dan Artificial Intelligence (AI). Croesus ketika mau melakukan hal penting (berperang) bertanya kepada Oracle dari Delphi. “Google, apakah bisnisku akan berhasil?”. Jawaban yang keluar di hasil pencarian, bernilai atau tidaknya, bergantung cara kita memperlakukan jawaban. Croesus kalah karena salah menafsirkan ramalan Oracle dari Delphi. Sama halnya, ketika kamu memakai ChatGPT4, tetapi tidak tahu cara menuliskan “prompt” dengan baik, atau salah bertanya, serta tidak menginspeksi jawaban ChatGPT4, yang terjadi adalah Croesus yang kecewa.

Cassandra, sebaliknya, merupakan metafora dari para ilmuwan yang sudah puluhan tahun melakukan riset, meramalkan akan ada bencana besar, namun orang tidak mau percaya.

Mitos tentang Croesus dan Cassandra sangat menarik jika kita baca dengan metode Barthes.

Mitos Cassandra adalah mitos tentang kebenaran yang tidak dipercaya. Ini bisa menjadi awal refleksi terhadap tema-tema tentang penolakan masyarakat terhadap pesan yang meresahkan dan menantang status quo. Cassandra adalah mitos tentang kesepian pengetahuan, metafora dari kesulitan dan tragedi, yang dimiliki para ahli, yang berpengetahuan namun tidak membuat mereka diakui.

Croesus percaya sepenuhnya pada ramalan, tanpa sikap kritis. Para pemakai algoritma AI sering tidak mempertanyakan akurasi atau bias.

Masyarakat mengabaikan Cassandra karena hasilnya tidak disukai publik. Ini seperti mengabaikan data penting atau prediksi AI karena kita melihat kebenaran dengan “emosi”.

Croesus tidak memepertimbakan konteks atau arti-lain dari ramalan. Croesus “membenarkan” keinginan sendiri setelah mengerti ramalan itu. Croesus kalah karena prasangka terhadap kapasitas dan posisinya.

Orang sering bias dalam algoritma AI, menginterpretasi data, dan membuat keputusan yang “salah” setelah menerima jawaban AI/Google. Prediksi AI berdasarkan probabilitas dan model, yang selalu memiliki tingkat ketidakpastian.

Dampak interpretasi yang salah, pada Croesus dan Cassandra, sama-sama bersifat “menantang” publik. Bedanya, keduanya sama-sama “tak-terhindarkan” dan mempengaruhi orang banyak.

Para ahli menjadi “tirani” dalam menentukan keputusan. Orang banyak bergantung kepada “metode”, algoritma, aplikasi, media, dan mesin-mesin besar seperti Google dan ChatGPT4.

Kita seperti Croesus yang bertanya kepada Oracle dari Delphi, atau mengabaikan algoritma Cassandra yang berasal dari Dewa Sinar Kebenaran (Apollo) ketika ternyata Cassandra bernama Wikipedia memperlihatkan daftar bias-kogntif dan kesalahan-berlogika, yang sangat sering kita pakai ketika berpikir dan membuat keputusan.

Oracle dari Delphi, dalam cerita Yunani Kuno, sering sekali “benar” dalam meramal, namun “mengecewakan”.

Raja Aegeus dari Athena pernah mencari nasihat tentang ketidakmampuannya memiliki anak. Oracle memberi wadah anggur, melarang Aegeus membukanya sebelum kembali ke Athena. Aegeus melanggar perintah itu. Aegus membukanya ketika di Troezen, memicu peristiwa kelahiran Theseus, yang kelak menjadi pahlawan sekaligus menyebabkan ekmarian Aegeus.

Oedipus, Raja Thebes, pernah bertanya tentang nasibnya kepada Oracle dari Delphi. Oedipus diramalkan akan memiliki anak, yang kelak membunuhnya, dan menikahi ibunya sendiri. Oedipus menghindari ramalan itu, menjauh dari rumah, namun perjalanan itu justru “membenarkan” terjadinya ramalan, di mana kelak Oedipus mati di tangan anaknya dan anak itu menikahi ibu kandungnya. Dari sinilah terjadinya istilah “Oedipus Complex”.

Banyak sekali ramalan Oracle yang “benar” dan memuaskan. Saya tidak menyebutnya di sini.

Faktor Cassandra: Mengapa Orang Tidak Percaya “Ramalan” Para Ilmuwan

Bayangkan, para ilmuwan mengabarkan tentang kehancuran lingkungan hidup. Lengkap dengan bukti, video, statistik, dan perhitungan matematis. Orang tidak percaya. Para ilmuwan mendapat kutukan seperti Cassandra.

Mengapa mereka tidak dipercaya?

Kasus Cassandra, di mana ramalannya yang benar tidak dipercaya meskipun ada bukti, mencerminkan situasi di dunia saat ini terkait dengan isu-isu seperti bahaya kolesterol jahat, perubahan iklim, dan lainnya.

Mengapa orang tetap tidak berubah dan bekerja sama, ketika sudah ada bukti-bukti ramalan yang pasti terjadi, dari para ilmuwan?

Mengatasi dissonansi kognitif. Orang tidak nyaman ketika ada kontradiksi antara keyakinan atau perilaku mereka ketika datang informasi baru. Mereka memilih untuk mengabaikan, meremehkan, atau menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Biar dikira konsisten, tidak ada kesenjangan antata tindakan dan pengetahuan, mereka pilih percaya ramalan. “Sebagai orang dari Suku X, saya percaya kalau akan terjadi Ramalan X.” Ungkapan seperti sering kita dengar.

Yang paling utama, orang sangat tidak suka berpikir rumit. Tidak mau belajar membaca data statistik. Mereka memilih untuk mengikuti hasil pemikiran orang lain, yang dianggap ahli atau terpercaya. Apalagi diminta untuk memikirkan masalah global. Itu sebabnya, “disinformasi” di balik ramalan, juga menjadi “pilihan”.

Post-truth” menggeser status kebenaran, dari kebenaran yang obyektif, menjadi kebenaran yang “disesuaikan” dengan preferensi emosional.

Perbedaan skala waktu juga menentukan kepercayaan orang atas kabar dari para ilmuwan. Sejak tahun 1985, bukti ilmiah tentang pemanasan global sudah menjadi “masalah dunia”. Masalah ini dianggap sebagai agenda bersama, perlu kerja bersama, dan jangka panjang.

Akhirnya, orang lebih memilih membebankan masalah ini kepada anak-cucu yang belum terlahir, daripada menyiapkan jalan lapang untuk kehidupan anak-cucu yang lebih baik.

Polarisasi politik juga berpengaruh besar. Bukti ilmiah sebagus apapun, dapat menimbulkan sentimen negatif, ketika datang dari kelompok dengan identitas yang berseberangan dengan kita.

Kebanyakan manusia bergantung pada rutinitas dan “status quo. Untuk terlibat dalam masalah global, seperti “global warming” dan “krisis energi”, bukan hanya membutuhkan sinergi dan kerja bersama. Yang sangat dibutuhkan dan berat dilakukan, antara lain: mengubah cara kita berpikir, cara kita hidup, cara kita bekerja, dan cara kita memperlakukan lingkungan-hidup.

Resistensi terhadap perubahan gaya hidup itu sangat berat. Ajakan “menuju perubahan” seperti transisi yang tidak pasti, orang merasa “dianggap bodoh”, diliputi rasa takut, tak-berdaya, pesimisme terhadap perubahan, serta konsekuensi berat, sehingga semua ini mengarah kepada “inaction” (tidak bertindak).

Eksposur pada media atau jaringan sosial yang hanya menampilkan pandangan yang sesuai dengan keyakinan seseorang dapat memperkuat disonansi kognitif dan mengurangi eksposur terhadap informasi yang bertentangan.

Orang mungkin tidak menganggap suatu isu penting itu nyata atau mendesak, sampai mereka mengalami dampaknya secara langsung.

Cara Pandang terhadap tingkat risiko yang sangat rendah. Sekalipun akumulasi risiko jangka panjang akibatnya mengerikan, juga ada kecenderungan meremehkan risiko yang berjalan lambat dan kumulatif.

Croesus memberikan kita pelajaran: informasi tentang masa depan harus diimbangi dengan sikap kritis dan tidak boleh egois. Cassandra dari Troy memberikan pelajaran bahwa terlepas kita percaya kepada para dewa atau tidak, kita perlu membuka diri pada kebenaran tentang masa depan. Sekarang ini, ada yang lebih pasti, dari para ilmuwan. Mereka meramalkan (tepatnya: melakukan pembuktian) tentang bencana lingkungan hidup, namun kebanyakan manusia tidak percaya.

Sikap kita yang akan membuat kita akan dikenang. Apakah kita lebih memilih membebankan masalah itu kepada anak-cucu? [dm]

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.