in

Cara Menulis Artikel Listicle

Panduan lengkap cara menulis artikel listicle. Jaminan menaikkan traffic dan backlink. *) Tidak semudah yang kamu bayangkan.

Apakah “listicle” itu? “Listicle” adalah portmanteau dari “list” (daftar) dan “article” (artikel). Singkatnya, listicle adalah artikel berbentuk daftar. Detailnya, artikel berbentuk daftar pemilihan kriteria tertentu, sehingga suatu topik dapat dipahami pembaca sebagai daftar yang mudah mereka ingat, menampilkan perspektif penulis, serta merekomendasikan pilihan atau keputusan tertentu kepada pembaca.

Sebagian besar listicle yang saya baca, menurut penilaian saya, sering kacau. Saya bisa jelaskan di mana kacaunya dan akan saya tunjukkan cara menulis listicle yang datangkan traffic dan disukai orang.

Saya lumayan lama mengamati fenomena ini. Awalnya, saya mengamati acara “On the Spot”, yang semual majalah berita. Ini acara reality yang ditayangkan di Trans7. Tayang pertama tanggal 27 Oktober 2008. Banyak blog yang memakai gaya listicle seperti itu, meskipun mereka tidak meniru dari Trans7. YouTube, kalau kita buka, banyak content listicle, dengan pola judul seperti: “5 Negara dengan Kekuatan Militer Terhebat di Dunia”. Kebanyakan, “daftar” mereka bermasalah.

Menulis listicle tidak mudah, kalau mau listicle kamu bagus.

Buat Kriteria Baru dan Spesifik, Sebelum Tentukan Daftar

Jangan menulis daftar dulu, sebelum kamu tentukan kriteria apa yang membentuk daftar kamu.

Listicle mudah ditiru kompetitor (pesaing) jika dituliskan asal-asalan. Kebanyakan penulis listicle, malas merancang daftar yang tangguh.

Coba buka YouTube dan web yang menulis listicle, mereka menulis dengan judul seperti ini: “10 Kamera DSLR untuk Shooting Film”. Atau “5 Senjata Tercanggih Penghancur Massal”.

Di mana masalahnya? Ini masalahnya.. Mereka ini normatif, mentarget ranking (dari yang katanya “terbaik”, “tercanggih”, dll.) kemudian menerapkan dalam tulisan. Pesaing sangat mudah meniru model mereka. Kalaupun nanti ngehit, tidak akan lama.

Buat kriteria dulu, baru buat daftar. Jangan hanya membuat pengelompokan, apalagi sebatas apa yang kamu tahu, tanpa menguji kriteria yang mendorong kamu membuat daftar (list).

Saya berikan contoh buruk: “5 Tempat Selfie Instagrammable di Kota Lama Semarang”. Contoh itu saya anggap buruk, karena: (1) Sudah ada di pikiran sebagian besar orang. Mereka bahkan bisa langsung meniru apa yang kamu tuliskan, mungkin lebih baik, “tanpa” membaca tulisanmu. Dari judul saja, mereka sudah bisa membuat duplikat yang sama. (2) Mengapa hanya 5 (lima)? (3) Bagaimana “metode” kamu dalam memilih tempat selfie yang kamu anggap instagrammable itu? Sekali lagi: kebanyakan penulis hanya asal ambil kemudian dibuat sebagai daftar.

Singkatnya, untuk atasi masalah tersebut: pikirkan lagi cara kamu membuat kriteria.

Berdasarkan apa kamu pilih tempat itu? Jika sudah ada di pikiran orang banyak, mendingan cari lagi kriteria yang lebih baru. Kita tahu kalau sudah ada di pikiran orang banyak, jika di Google kita bisa temukan judul yang hampir sama.

Ini yang perlu kamu lakukan ketika memilih “kriteria” baru:

Riset keyword dulu sebelum menulis. Apakah sudah ada tulisan (judul) serupa dengan ini? Kalau sudah, bisakah saya membangun skyscraper yang lebih bagus?

Kamu bisa baca tentang “rahasia riset keyword“. Tutorial paling ringkas, lengkap, dan “work” untuk riset keyword #sebelum kamu menulis dan bikin web.

Jangan sampai daftar kamu merekapitulasi informasi yang sama dengan hasil pencarian di search engine.

Jangan pilih yang terbaik dan terpopuler, karena yang terpopuler tidak mengundang kontroversi alias “segera diterima” kebanyakan pembaca. Pikirkan pembaca seperti apa yang akan menyukai tulisan kamu. Jangan menulis karena deadline, karena jumlah kata sudah pas, apalagi hanya demi kepentingan promosi. Tidak. Pembaca tidak mau tahu itu. Mereka kamu membaca, share, komen, dan save tulisan kamu, kalau tulisan kamu bernilai bagi mereka.

Buang istilah yang “terbaik”, “termurah”, “paling disukai”, dll. Kamu bisa ganti kebalikan istilah tersebut, dengan: “yang diabaikan”, “yang tidak layak”, “yang akan ngehit”, “yang mengalahkan..”.

Coba untuk spesifik.

Saya berikan contoh tentang listicle wisata. Ketika pembaca sudah tidak akan melirik judul seperti “5 Tempat Selfie Instagrammable di Kota Lama Semarang”, kamu perlu kembali kepada “nilai” tulisanmu.

Apa maksud tulisan kamu itu?

Jika tujuannya untuk membuat daftar tempat selfie yang instagrammable, agar orang berwisata di Kota Lama Semarang, coba nilai kembali apa artinya “wisata”. Sebagai penulis, kamu perlu mempelajari “wisata”.

  • Apa saja yang dianggap sebagai wisata?
  • Apa yang membuat tempat wisata menjadi ngehit?
  • Bagaimana jika “exposure” kamu bukan pada keindahan tempat saja, tetapi pada “pengalaman” selama berwisata?

Pertanyaan seperti di atas, akan menciptakan kriteria baru.

Mungkin, kamu bisa dapat judul-judul seperti ini:

  • 5 Mitos Paling Horor tentang Kota Lama Semarang
  • 9 Hal yang Dianggap Mitos Padahal Fakta Sejarah tentang Kota Lama Semarang
  • 2 Jam Wisata Edukasi di Kota Lama Semarang, Kamu Bisa Pelajari 5 Skill Ini
  • 7 Barang Antik Termurah yang Paling Diburu Kolektor dengan Harga Mahal di Pasar Klithikan
(Credit: sensevector)

Cerita tentang Proses Kamu untuk Membujuk Pembaca

Tanpa persuasi, orang tidak anggap tulisanmu penting dan mereka tidak bertindak.

Cara paling ampuh untuk membujuk pembaca adalah dengan menceritakan proses kamu.

Menceritakan proses adalah pintu terbuka di mana orang bisa melihat keahlian kamu di subject yang kamu tulis.

Ini bisa kita awali dengan membuka “listicle” yang menurut keahlian kamu sangat bermasalah.

Misalnya: ada “listicle” yang menyebut Alifbaktak sebagai salah satu gitaris terhebat Indonesia.

Masalahnya, ada pada cara memberikan label (kriteria) “terhebat” itu. Listicle tersebut tidak secara spesifik menyebutkan genre gaya bermain gitar. Hanya karena memiliki popularitas meng-cover lagu-lagu orang lain dengan teknik fingerstyle, serta lebih unggul di jumlah subscriber YouTube dan diberi komentar para pemain asli dari lagu-lagu yang ia cover, tidak lantas menjadi yang terbaik. Siapa saja yang masuk ke dalam daftar pemain yang diseleksi penulis listicle itu? Apakah “gitaris terbaik” (sebagai kriteria) sudah spesifik? Dalam rentang waktu tahun berapa sampai berapa?

Semua itu bisa kamu jelaskan dalam proses, mengapa daftar yang kamu buat lebih akurat. Jika listicle kamu lebih detail, lebih beralasan dalam cara kamu membangun kriteria untuk membuat daftar, tentu pembaca akan melihat keahlianmu.

Jangan biarkan pembaca membangun kesimpulan mereka sendiri, tanpa mengetahui proses kamu membuat daftar.

Yang paling saya rekomendasikan, jika pembaca minimal tahu, atas dasar apa dan bagaimana proses kamu membuat daftar ini. Tidak terlalu mudah? Melalui penyaringan (filtering) yang panjang?

Jika tidak kamu jelaskan, pembaca hanya akan baca “subheading” di dalam tulisan, tanpa terlalu peduli uraian kamu.

(Credit: tcmake_photo)

Tulis Listicle dengan Keahlian (Expertise)

Bukan hanya dengan browsing, crafting (menganyam seperti kerajinan tangan), dan memilih mana yang pantas. Tidak. Listicle memberikan janji (promise) kepada pembaca, bahwa daftar ini sangat bernilai dan layak. Pemilihanmu layak dipercaya. Kamu tahu apa yang kamu tuliskan. Dan tulisan kamu bukan “persetujuan” atas apa yang kamu baca dari hasil browsing.

  • Apakah kamu sudah eksplorasi secara mendalam tentang topik yang kamu angkat?
  • Adakah “pengecualian” yang belum kamu tuliskan di daftar itu?
  • Perlukah menyisipkan “bonus” atau hal lain yang tidak masuk ke dalam kriteria karena benar-benar unik?
  • Adakah pilihan yang kamu sertakan, yang menantang hal-hal normatif-konvensional, yang perlu pembaca mengerti?
  • Adakah rekomendasi dan perspektif kamu untuk pembaca, agar mereka tidak salah dalam mengambil keputusan?

Pertanyaan tersebut perlu kita tanyakan ketika menulis listicle karena itulah yang pembaca pikirkan. Dengan kata lain, pembaca selalu bertanya, “Di mana kerennya listicle ini? Apakah menyingkap hal berbeda dari apa yang sudah saya tahu?”.

(Credit: Petro Bevs)

Listicle adalah Metode

Sebenarnya, sama seperti “feature” (berita-cerita) dan “indepth” (liputan mendalam). Memang, semua yang saya sebut itu suatu bentuk tulisan, tetapi sama-sama memiliki kekuatan sebagai “metode”.

Saya berikan contoh. Di suatu universitas, terjadi banyak kritik. Kenaikan UKT 17% dan menyalahi kesepakatan antara universitas dengan mahasiswa, peran dosen sering diganti asisten dosen, penilaian yang kurang obyektif, ujian tengah semester mendadak, dll. Semua kritik tersebut, ingin disampaikan dalam bentuk “listicle”. Dengan kata lain, kita ingin “metode” mengkritik universitas tadi, dalam bentuk listicle. Kemudian, jadilah tulisan: “7 Hal yang Akan Membuat Lisa Blackpink Tidak Mau Kuliah di Universitas X”. Semacam pengandaian. Berdasarkan sifat-sifat Lisa Blackpink yang “konsisten”, suka show dan akan kelabakan kalau ujian tengah semester dilakukan mendadak, dan Lisa Blackpink tidak mau kalau alasan dia suka sama Dosen X yang pintar, harus diganti dengan asisten dosen.

Atau contoh yang lebih mudah, misalnya kita mau mengkritik kondisi Kota Lama Semarang. Ada peraturan, ada pelanggaran. Ada harapan, ada kenyataan. Kita membuat daftar apa saja aturan yang dilanggar oleh para penghuni Kota Lama Semarang. Ini suatu metode untuk: menjelaskan kepada publik, bahwa banyak aturan dilanggar dan banyak harapan tidak direalisasikan.

Berikan Kepribadian pada Listicle

Kompetensi kamu dalam menulis, akan terlihat jika itu berdasarkan “pengalaman pribadi” kamu. Bukan hasil copy-edit dari listicle lain. Intinya, buat pembaca percaya (trust) dan melihat keahlian (expertise) kamu, dari listicle kamu.

Google memperhatikan EAT (Expertise, Authoritativeness, and Trustworthiness).

Tentang bagaimana mengerjakan EAT dalam tulisan, secara detail saya tuliskan dalam “Cara Saya Dapat 3-7K View Per Tulisan“. Targetnya bukan “viral”. Yang penting, kualitas dan konsistensi. Angka akan naik sendiri.

Pembaca yang percaya dan mengakui keahlian kamu, akan berkata, “Baru kali ini saya lihat gagasan seperti ini. Saya baru lihat gambar atau foto yang ini. Mengapa saya baru mengerti sekarang?’.

Apa bentuk kepribadian dalam tulisan kamu?

Bagikan fotomu sendiri. Hasil screenshot, ketika bicara aplikasi atau Android. Tambahkan apresiasi yang subyektif. Jangan takut mengatakan “buruk”, “tidak layak”, “seharusnya tidak terjadi”, “ternyata ini salah..”, dst. Berikan bukti dari tempat kejadian, bukan apa kata orang di tempat lain.

Tujuan menulis listicle untuk berbagi pengalaman, menceritakan pengamatan mendalam, bukan meracik listicle orang lain dengan informasi orang lain.

Di situlah seni menulis listicle.

Ada suatu quote tentang seni yang selalu saya ingat:

“Art does not lie down on the bed that is made for it; it runs away as soon as one says its name; it loves to be incognito. Its best moments are when it forgets what it is called.” — Jean Dubuffet

Artinya: “Seni tidak berbaring di atas tempat tidur yang dibuat untuknya; seni berlari sesegera mungkin, sekali namanya disebut; seni lebih suka tak-dikenal. Moment terbaiknya adalah ketika seni itu lupa panggilannya sendiri.” — Jean Dubuffet

Kalau tulisanmu mau sentuhan “art” (seni), kamu perlu menulis dengan cara keluar dari rumah, datang ke tempat yang kamu amati. Berbicara dengan orang lain. Mencatat. Mempertanyakan. Wawancara. dst. Seni baru terjadi kalau seni tidak mau diam.

Seni bukan hanya keindahan. Seni adalah tindakan sosial.

Bersandar pada Narasumber Berpengalaman..

Tidak mungkin semua kamu kerjakan sendirian. Kamu bukan ahli dalam semua hal. Penulis selalu menulis sambil belajar hal-hal baru. Itu sebabnya, penulis tidak menuliskan dirinya sendiri saja, ia membutuhkan narasumber. Bukan hanya ketika menulis reportase dan indepth, kamu perlu narasumber. Orang yang ahli di “bidang ini”, orang yang punya kesaksian atas suatu peristiwa, memiliki otoritas terpercaya.

Peran narasumber itu berbentuk apa? Bentuknya, kutipan langsung (direct quote).

Narasumber kamu libatkan dalam tulisan. Itu bisa berupa buku. Panggilan telepon. Wawancara langsung. Hasil berdiskusi di angkringan. Sesuatu hal lain, yang memang berasal dari narasumber berpengalaman. Kalau kamu mengerti metode penelitian (diajarkan di semua perkuliahan) dan memiliki akses kepada sekelompok pembaca, kamu bisa membuat survey atau riset untuk memperkuat data dalam listicle kamu.

Rekomendasi Pengambilan Keputusan di Akhir Tulisan

Orang tidak butuh tulisan kamu, kalau hanya berisi informasi. Ada tempat lain yang bisa berikan informasi lebih bagus, lebih utuh. Orang butuh rekomendasi berdasarkan sudut-pandang kamu.

Anggap saja kamu seperti penjual kartu ulang tahun. Sebenarnya, konsumen kamu tidak butuh kartu ulang tahun itu. Pacar mereka yang sedang berulang tahun, tidak perlu kartu ucapan. Mereka membeli kartu ulang tahun karena membeli kata-kata, karena menghargai apa yang kamu tuliskan, karena mereka mengerti “mengapa” kamu mau membuat lapak khusus kartu ulang tahun (agar setiap hari kamu berperan pada orang yang sedang berulang tahun).

Sama seperti orang menuliskan status di WhatsApp. Mereka meminta izin copas status kamu, kalau status kamu “bagus” menurut mereka. Padahal mereka bisa menulis status sendiri dan kawan mereka tidak mengharuskan dia copy-paste status kamu.

Singkatnya, berikan perspektif kamu. Berikan rekomendasi atau penilaian akhir kamu, yang menjadi inspirasi pembaca dalam membeli atau bertindak.

Jika tulisanmu sudah terpercaya, orang tidak mempertanyakan tulisanmu. Mereka akan bertanya, “Jadi, saya harus pilih mana? Jadi, apa yang perlu saya lakukan?”.

Mereka bahkan scroll dan scanning (membaca-cepat) untuk mengetahui ending tulisan kamu, kemudian berkesimpulan, “Jadi, menurut tulisan ini, saya harus lakukan ini.”.

Orang membaca rekomendasi untuk pengambilan keputusan.

Jangan membuat orang lain ambil keputusan salah. Artinya, jika mereka salah ambil keputusan, mereka akan kecewa dan tidak percaya pada tulisanmu. Biaya keputusan yang salah, bukan hanya mahal, tetapi membuat waktu mereka tidak bisa dikembalikan, demi memperbaiki kesalahan ambil-keputusan.

Listicle Berbentuk Content Panjang

Content yang terlalu singkat, sebenarnya kalah dibandingkan content panjang. Mesin pencari memilih halaman yang ditulis dengan struktur link.

Misalnya, kamu menulis tentang “5 Pelanggaran Wisata yang Sering Diabaikan di Kota Lama Semarang”. Ada keyword “wisata semarang”, “pelanggaran di tempat wisata”, dan “kota lama semarang”.

Apakah keyword itu ada di dalam tulisanmu? Apakah tulisanmu sudah kamu rancang memuat link-link yang paling berkaitan dengan keyword itu? Apakah kamu sudah menuliskan dengan kata-katamu sendiri, yang berbeda dari content lain, misalnya dengan “bercerita” dan menuturkan “pengalaman pribadi” agar unik? Apakah kamu menjawab pertanyaan yang paling dibutuhkan pembaca, dengan jawaban yang lebih ringkas, spesifik, dan detail? Semua itu bisa kamu cover jika listicle kamu tidak terlalu singkat.

Google punya daftar link yang dianggap paling berkaitan dengan keyword itu. Inilah struktur link. Harus kuat, relevan, dan benar-benar terhubung dengan tulisan kamu. Bukan asal-cantum.

Saya sudah tuliskan cara “Menulis Content Panjang” dengan detail yang bisa bangkitkan inspirasi kamu dalam menulis. Di artikel itu saya menuliskan mengapa Google lebih menyukai content panjang, bagaimana mengisi peluang tampil di halaman 1 hasil pencarian Google, seperti apa struktur content panjang, dan bagaimana cara membuatnya langkah demi langkah.

——-

Tampilan bukan segalanya, namun tampilan bagus akan membuat orang betah membaca, tertahan agar tidak melewatkan apa yang kamu tuliskan.

Listicle akan selalu disukai orang sampai kapanpun. Itu sebabnya kamu perlu menulis listicle yang lebih baik daripada tulisan orang lain. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.