in

Andalkan Pompa Berusia 20 Tahun, Banjir di Semarang Tak Mampu Dicegah

SEMARANG (jatengtoday.com) – Banjir di Kota Semarang sebetulnya mampu dikendalikan secara bertahap. Sejumlah wilayah telah terbebas banjir beberapa tahun ini. Namun kali ini banjir di Kota Semarang begitu dahsyat merendam kurang lebih sembilan kecamatan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang Sih Rianung mengaku banjir kali ini menjadi fenomena luar biasa dan di luar kendali.

“Kondisi hujan yang terjadi kali ini memang benar-benar ekstrem. Ini terjadi secara periodik kurang lebih 50 tahunan. Coba lebih jelasnya tanya ke BMKG,” ungkapnya, Minggu (7/2/2021).

Pihaknya mengaku telah melakukan evaluasi bersama Wali Kota Semarang. Berdasarkan hasil evaluasi, kata dia, pertama, dibutuhkan normalisasi saluran di Kota Semarang.

“Kapasitas pompa perlu ditambah serta peremajaan pompa penyedot air. Sebab, sejauh ini usia pompa yang dimiliki saat ini ada yang sudah berusia 20 tahun,” terang dia.

Anggaran Ditambah Rp 100 Miliar

Akibat usia pompa yang tua, sistem penyedotan banjir tidak maksimal. Ketiga, saat ini telah menggunakan pompa mobile portable dengan kapasitas 300 liter per detik. “Pak Wali memerintahkan saya, DPU, agar lebih fokus memperhatikan drainase. Untuk 2022, anggaran normalisasi ditambahi Rp 100 miliar. Kami memetakan lokasi-lokasi,” katanya.

Selanjutnya, kata Rianung, pematangan sumber daya manusia harus dilakukan.  “Misalnya operator pompa dan drainase, harus memahami betul wilayah kerjanya. Sehingga tidak ada istilah ketika banjir pompa rusak, pompanya telat, jangan sampai hal itu terjadi,” terangnya.

Menangani kondisi cuaca ekstrem ini, lanjut dia, Pemkot Semarang telah menentukan langkah-langkah ke depan. Pihaknya mengakui banjir di Kaligawe saat ini masih tinggi. Hal itu masih terkendala pompa di Sringin dan Tenggang yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

“Kalau Pompa yang dikelola DPU saya pastikan masih dalam kondisi bagus. Selama 36 jam, di pompa Kali Semarang mampu menurunkan elevasi air setinggi 2,5 meter. Sekarang sudah dalam kondisi normal. Kemudian yang di Semarang Indah juga sudah. Tanah Mas masih ada genangan. Termasuk di wilayah Anjasmoro Blok I, juga masih ada genangan,” katanya.

Untuk pompa di Kali Semarang memiliki 8 pompa yang saat ini ada dua pompa mengalami kerusakan. “Iya, betul. Dua pompa dalam proses maintenance. Tapi hal itu tidak mempengaruhi, karena dua pompa yang rusak itu berfungsi sebagai cadangan,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan Kota Semarang diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi. Ditambah dengan masuknya volume air dari dari daerah atas, Kabupaten Semarang juga cukup besar.

“Sehingga beberapa wilayah banyak laporan tentang banjir. Tapi  Alhamdulillah saat ini hujan sudah reda bisa membantu percepatan penanganan banjir,” ujarnya.

Titik banjir di Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Genuk, dan satu titik di daerah Ngaliyan telah ditangani menggunakan pompa portable. “Sedangkan kondisi warga terdampak banjir, terpaksa harus mencari tempat lebih aman karena memang banjir tinggi,” katanya.

Untuk penanganan darurat, saat ini pihaknya berkoordinasi dengan jajaran polsek, koramil untuk membuat dapur umum, dan masyarakat untuk bergerak bersama. “Ada yang kirimkan nasi bungkus, untuk membantu warga terdampak. Sementara ini dapur umum yang dibangun ada delapan unit,” terangnya.

BACA JUGA: Semarang Dikepung Banjir, 9 Kecamatan Terendam, 5 Insiden Longsor

Hendi mengakui, memang harus dilakukan evaluasi, karena pompa-pompa ini sejak tahun 2013 cukup efektif untuk menahan banjir.

“Namun, dengan kondisi banjir saat ini, pompa yang ada harus dievaluasi. Saya juga sudah koordinasi dengan Pak Menteri PUPR, untuk minta ditingkatkan daya pompa yang ada, apalagi di jalur nasional pantura. Selain itu, saya juga minta Dinas PU untuk meningkatkan kapasitas daya pompa yang digunakan saat ini dah meningkatkan kapasitas saluran drainase sekunder perkotaan,” ujarnya. (*)

 

editor: ricky fitriyanto

Abdul Mughis