in

Melihat Acting Politisi dan Selebritas

Mereka tidak menyadari, acting itu berat dan banyak penonton yang jeli melihat kesalahan mereka di atas panggung.

(Credit: Nadia Bormotova)

Acting itu tidak mudah. Yang pernah belajar acting, dengan mudah bisa mendeteksi “kesalahan” di atas panggung. Mereka bisa tahu, orang itu demam panggung atau tidak. Kesulitan menghadapi suasana panggung (seperti mikrofon, lawan-main) atau tidak.

  • “Orang ini demam panggung…”
  • “Dia belum siap berperan..”
  • “Pertunjukan akan kacau karena dia tidak bisa acting. Bisa diganti saja?”

Panggung bisa berarti luas. Mungkin itu YouTube, wawancara untuk media online, atau ketika janjian makan malam, bicara dengan 2 orang. Semua yang kamu rancang, tanpa “apa adanya”, itu acting.

Yang jarang dipikirkan para politisi dan selebritas, seandainya mereka memang acting, ketika mereka tidak menyadari, ada sebagian penonton yang jeli. Yang menonton dan menilai mereka. Tentu saja, lebih banyak penonton yang tertipu, seperti emak-emak yang “emosional” ketika menonton sinetron atau mendukung politisi karena paras ganteng dan penampilan selebritas yang kalem.

Acting kelihatan acting kalau pembawaan mereka seperti buku teks acting. Nada suara, cara tersenyum, pura-pura tenang, dan usaha “menguasai panggung” yang kadang tidak dilatih dengan baik. Pasti kelihatan. Belum tentu yang berapi-api atau tertata, menampilkan kejujuran dan keterbukaan.

Kawan saya, terkenal sangat cekatan dalam bekerja, idenya penuh lompatan, dan pertanyaan yang ia berikan ketika di depan publik, sering membuat orang membicarakan kembali apa yang ia katakan. Dia tipikal leader yang memberikan inspirasi dan bertindak di depan. Tahu seperti apa ketika menghadapi publik? Sangat canggung. Kadang ia bicara dengan jeda agak lama. Atau menjelaskan sesuatu yang membutuhkan footnote panjang. Namun dia memiliki sesuatu yang jarang dimiliki politisi dan selebritas. Dia tidak pernah bilang “Semua sudah kita atasi..”, “Kita nggak ada apa-apa, hubungan baik, dan tanpa tendensi bermacam-macam..”. Sebaliknya, kawan saya selalu mencari lubang dan kelemahan di balik apa yang selama ini dianggap baik-baik saja. Kawan saya ini tidak bisa acting.

Acting punya banyak faktor. Menata gerakan, suara, sampai perwatakan, sesuai karakter yang sedang dibawakan. Aktor yang hebat, bisa berganti-peran dengan cepat, menyesuaikan konteks cerita, dan mengerti bagaimana melibatkan “emosi” penonton.

Membaca puisi, public speaking, announcer (penyiar) radio, pidato politik, meredakan tangisan anak, bicara dengan pacar, nge-vlog,, podcast, semua memakai teknik pemeranan. Acting tidak sama dengan pribadi yang mendua, tidak sama dengan berbohong. Acting itu memperdalam potensi. Bahwa suara “saya” memiliki kekuatan ajaib, bahwa gerakan sekecil apapun perlu perhatian.

Saya sering melihat orang acting, namun orang itu tidak sadar kalau sedang acting. Atau sadar kalau sedang acting, namun dia tidak menyadari, beberapa detik yang buruk dapat merusak pertunjukan.

Prinsip durasi, sering mengabaikan “chronemics“. Bicara nyaris tanpa jeda. Pertanyaan apapun dalam wawancara dijawab dengan cepat. Pada masyarakat yang menganut struktur waktu yang “monochronic“, jadwal adalah kesucian. Konsep waktu yang “monochronic” dianut oleh sekte sesat perkantoran yang selalu bicara deadline, progress, pemeriksaan yang ketat, kepala kantor yang marah-marah. Durasi dan efek, menentukan kesejahteraan mereka. Televisi, radio, dan ekonomi Amerika dibangun dengan kesetiaan pada schedule, progress, prioritas, produktivitas, dan peristilahan semacamnya.

Masalahnya, ketika orang nge-vlog, podcast, dan “berkomentar”, yang tanpa kekuatan script, mereka sering ” demam panggung”.

Spontanitas tanpa script dapat menjadi senjata makan-tuan di internet. Salah-pakai kata, salah menerapkan contoh, bisa merusak pertunjukan. Keadaan bisa berbalik begitu saja.

Kata dan istilah kunci, yang memiliki sejarah pembentukan, bisa kehilangan kekuatan, makna yang spesifik menjadi hambar, tidak sesuai konteks, dan menimbulkan kerusakan beruntun.

Pesan pertunjukan hilang karena acting buruk.

Kamu punya pilihan. Pakai script. Kalau tidak bisa, setidaknya jangan pakai beberapa kata berikut ini. Jangan salah pakai-kata. Atau lakukan editing yang ketat.

Latihan acting memang tidak mudah.

Sayangnya, “berpikir” yang sebenarnya tindakan (action), sering tidak dilatih. “Berpikir” dianggap bukan skill yang bisa dimiliki semua orang. Tidak banyak yang percaya, itu bisa kita latih.

Podcast, vlog, itu panggung sungguhan, yang sangat menegangkan. Orang bisa salah-tingkah (ketika ada tuntutan berpikir cepat dan “menjawab” situasi), akhirnya memilih berkata-kata, tanpa jeda, memperbanyak contoh, dan melompat-lompat. Agar terlihat “cerdas” dan naik-level.

Kalau kamu pernah nonton debat Rocky Gerung dan Reynald Kasali, ketika mereka bicara tentang “hoax”, kelihatan sekali mereka tidak mengerti “sejarah” hoax di dunia media. Steven Pinker, sekalipun berpredikat ilmuwan psikolog, mengabaikan data korban kekerasan dan post-truth ketika bicara tentang kemajuan dan optomisme di buku Enlightenment Now. Yuval Noah Harari tidak mengerti konsep “virtual reality” ketika menganalogikan “agama” dengan “virtual reality”.

Menata emosi dan memainkan emosi penonton, memang ada dalam dunia acting, namun wawasan tidak bisa ditipu, ketika ada lebih banyak penonton.

Kata adalah sasaran bergerak. Kamu menangkap, saya menangkap. Ekspresi sekaligus impresi perasaan dan wawasan. Selalu bergeser, ambigu, dan sangat labil.

Ketika penonton melihat acting buruk, keadaan bisa berbalik.

“Orang ini demam panggung…”
“Dia belum siap berperan..”
“Pertunjukan akan kacau karena dia tidak bisa acting. Bisa diganti saja?”

Sangat menyedihkan, ketika kita menginginkan komunikasi yang jujur dan terbuka, yang kita temukan lebih banyak acting. Dan ketika acting itu buruk, lebih menyedihkan lagi. Maaf, sebaiknya kamu belajar acting lagi. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.