in

7 Fakta Sumur Tua di Kota Lama yang Kini Terabaikan

Sumur tua di Kota Lama Semarang yang didekatnya dibangun toilet umum kini kondisinya ditutup beton sampai tak terlihat lagi bibir sumurnya. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Kawasan Kota Lama Semarang semakin megah pasca-revitalisasi, mulai dari bangunannya hingga fasilitas yang tersedia. Namun siapa sangka, ternyata ada objek bernilai sejarah yang terabaikan.

Salah satunya sumur tua peninggalan kolonial yang terletak di pusat Kota Lama, tepatnya di antara Taman Srigunting dan Hotel Kotta–yang kini sedang dalam proses pembangunan.

Sepintas, tidak ada yang istimewa dari sumur tersebut. Namun, sejarah membuktikan keistimewaannya. Bahkan, sebagian ada yang menjuluki “sumur abadi” lantaran tak pernah surut meski kemarau panjang.

Baca Juga: Miris, Sumur Bersejarah di Kota Lama Semarang Kini Ditutup Beton

Berikut kami rangkum fakta-fakta tentang sumur yang mempunyai peran penting dalam perjalanan sejarah Semarang:

1. Berusia Lebih dari 180 Tahun

Sejarah pembangunan sumur di Taman Srigunting Kota Lama Semarang terekam dalam buku “Java, Geografisch, Ethnologisch, Historisch” yang ditulis akademisi Universitas Leiden Prof. P. Veth.

Disebutkan, sumur itu dibangun pada tahun 1841 dengan teknologi bor hingga kedalaman 71 meter. Sumur dibangun di sebelah lapangan timur Paradeplein yang kini menjadi Taman Srigunting.

2. Penyuplai Air untuk Kapal

Pemerhati Sejarah Kota Semarang Tjahjono Rajardjo menambahkan, dahulu sumur di Paradeplein menyediakan air minum yang sangat baik dan berlimpah, tidak hanya bagi penduduk kota, tetapi juga untuk kapal-kapal yang bersandar di dermaga.

Jaringan pipa menyalurkan air dari sumur ke reservoir di jembatan Bodjong, sehingga memudahkan pengisian tandon air kapal dengan air yang dibawa dengan perahu-perahu.

3. Cegah Wabah Kolera

Koordinator Komunitas Penggiat Sejarah (KPS) Semarang Rukardi Achmadi mengungkapkan, pada zaman kolonial, sumur tersebut sengaja dibangun untuk kepentingan publik.

“Dasar pembangunannya sudah jelas, untuk kepentingan publik, yaitu untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga kota untuk menghindari wabah penyakit kolera,” ujarnya saat ditemui, Selasa (12/4/2022).

Wabah kolera yang melanda wilayah Semarang pernah menewaskan 150–200 setiap harinya. Pembangunan sumur di beberapa titik, termasuk di Paradeplein, disebut efektif menekan angka kematian akibat wabah kolera.

4. Turut Atasi Kebakaran Pasar Johar

Selama ratusan tahun, sumur tersebut masih berfungsi secara baik. Tidak hanya untuk kebutuhan perorangan, melainkan juga digunakan untuk mengisi air pada mobil pemadam kebakaran.

Menurut informasi yang dihimpun dari warga sekitar, sumur ini turut berjasa mengatasi tragedi kebakaran Pasar Johar yang terjadi pada 9 Mei 2015. Lebih dari belasan mobil damkar mengambil air dari sumur dan ajaibnya tak pernah habis.

5. Terabaikan Pemerintah

Meski terbukti mempunyai peran penting dalam perjalanan sejarah, sumur di Kota Lama Semarang semakin ke sini kondisinya kian miris dan tak mendapat perhatian pemerintah setempat.

Pada 2019 di dekat sumur justru didirikan toilet umum. Septic tank-nya berada dekat sumur, hanya berjarak sekitar 3 meter. Meskipun sempat diprotes banyak pihak, tetapi toilet tetap dibangun.

6. Ditutup Beton

Setengah muka sumur yang tadinya menganga kini ditutup beton. Sumur di Kota Lama Semarang ini berlokasi di setelah Hotel Kotta. (baihaqi/jatengtoday.com)


Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin (11/4/2022), sumur justru ditutup beton sampai tidak tampak bibir sumurnya. Sehingga kini masyarakat umum tidak bisa lagi mengakses air yang ada di dalamnya.

Penutupan sumur berbarengan dengan proses pembangunan Hotel Kotta yang terletak di sebelah Taman Srigunting. Menurut informasi, yang menutup sumur adalah pihak hotel, tetapi sampai saat ini belum ada konfirmasi lebih lanjut.

7. Diduga Objek Cagar Budaya

Rukardi selaku pegiat sejarah Kota Semarang menerka bahwa sumur di Taman Srigunting adalah objek cagar budaya. Hal itu dikuatkan dengan adanya catatan dalam teks-teks lama.

Apalagi letaknya juga berada di kawasan cagar budaya. “Kalaupun belum ditetapkan, itu patut diduga sebagai bangunan cagar budaya,” ujarnya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya disebutkan, objek yang diduga bangunan cagar budaya harus dilindungi. (*)

editor : tri wuryono

Baihaqi Annizar