SALATIGA (jatengtoday.com) – Sebanyak 18 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga asal Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, resmi diwisuda pada Kamis (29/1/2026). Wajah ceria dan senyum bahagia tampak menghiasi prosesi wisuda yang menjadi momen bersejarah bagi para mahasiswa tersebut.
Salah satu lulusan, Tokon Urapmabin, mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) angkatan 2021, mengungkapkan rasa syukurnya dapat menyelesaikan studi hingga lulus. Ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, yang telah memberikan dukungan melalui program beasiswa daerah.
“Saya bersyukur bisa menyelesaikan studi dan wisuda hari ini. Terima kasih kepada Bupati Spei Yan Bidana, karena melalui program beasiswa beliau saya bisa bersekolah di UKSW,” ujar Tokon.
Selama menempuh pendidikan, Tokon tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menorehkan prestasi internasional. Ia tercatat pernah mengikuti program pertukaran pelajar Summer Immersion Program di Shonan Fujisawa Campus (SFC), Keio University, Jepang, serta Summer School di Asia University, Taiwan, pada Agustus 2023.
Menurut Tokon, adanya jaminan beasiswa membuat dirinya dapat berkonsentrasi penuh pada studi. Ia pun berkomitmen untuk kembali dan mengabdi membangun daerah asalnya.
“Bantuan finansial dari Bupati sangat luar biasa. Saya akan membalasnya dengan mengabdikan diri untuk membangun Kabupaten Pegunungan Bintang,” katanya.
Sementara itu, Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana menjelaskan, program pengiriman mahasiswa ke UKSW telah dimulai sejak dirinya menjabat pada periode pertama. Pada periode kedua kepemimpinannya, sebanyak 218 mahasiswa dikirim untuk menempuh pendidikan di UKSW.
“Itu luar biasa, bahkan dilakukan secara mendadak tanpa seleksi ketat. Saat itu yang kami pikirkan adalah percepatan dan komitmen untuk mengubah Pegunungan Bintang,” ungkap Spei Yan Bidana.
Ia menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) menjadi prioritas utama daerah. Menurutnya, generasi muda Pegunungan Bintang harus didorong menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral.
“Kita bangun Pegunungan Bintang, tetapi yang utama adalah SDM. Mereka harus sekolah sampai S3 agar 30 tahun ke depan Pegunungan Bintang bisa go internasional,” ujarnya.
Spei Yan Bidana juga menilai kekayaan alam justru bisa menjadi bencana apabila tidak diimbangi dengan SDM yang berkualitas. Karena itu, penguasaan sains dan teknologi menjadi hal yang mutlak.
Ke depan, Pemkab Pegunungan Bintang menargetkan pengiriman mahasiswa ke sekolah-sekolah kedinasan di berbagai kementerian, sekaligus merintis pembangunan universitas di daerah. Ia menyebutkan, mahasiswa berprestasi akan direkomendasikan menjadi calon dosen di universitas tersebut, dengan rencana pembukaan program studi keperawatan dan kebidanan pada 2027.
Selain pendidikan, Spei Yan Bidana juga menyoroti minimnya akses menuju Pegunungan Bintang yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Menurutnya, diplomasi internasional melalui pendidikan dan kebudayaan perlu terus dilakukan demi pembangunan kawasan perbatasan.
Staf Ahli Bupati Pegunungan Bintang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Yohannes Sardjono, menegaskan pembangunan SDM harus menjadi prioritas utama. Ia menyebut Pegunungan Bintang memiliki tantangan geografis sebagai wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) sekaligus terisolir.
“Pegunungan Bintang tidak memiliki akses darat, baik dari Merauke maupun Jayapura. Pemerintah pusat harus membangun akses ini demi kemajuan daerah,” kata Sardjono.
Ia juga menyoroti keterbatasan akses teknologi informasi, listrik, serta infrastruktur pendidikan dan kesehatan. Menurutnya, ketersediaan listrik yang masih terbatas dan minimnya fasilitas pendidikan harus segera ditangani pemerintah pusat.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang, Yanus Delka, menyatakan dukungan penuh terhadap program pengiriman mahasiswa untuk belajar ke luar daerah.
“Kami dari DPRD siap mendukung, karena adik-adik yang lulus ini juga berkomitmen untuk kembali membangun Pegunungan Bintang,” ujarnya. (*)
