in

13 Formula untuk Storytelling (dalam Menulis Cerita, Berita, dan Artikel)

“Bercerita” (storytelling) menjadi metode ampuh dalam menyampaikan gagasan, menulis fiksi, jualan produk, mengajarkan sesuatu, mendongeng untuk anak, menawarkan jasa layanan (service), sampai kampanye politik.

Dunia lebih “hidup” karena orang bercerita. Bisa bercerita, menjadi modal bagus untuk menulis berita dan menyampaikan gagasan. Di Eropa dan Amerika, berita disebut sebagai “news” atau “story”. Ketika menggunakan Aldus Pagemaker di tahun 1998, sebelum kemudian diakuisi Adobe menjadi Adobe InDesign, teks berita disebut “story”. Memang, pada intinya berita (selain unsur kebaruan), setiap berita itu bercerita.

Storytelling merupakan perpaduan seni dan ilmu pengetahuan yang berharga mahal. Yang bisa bertahan di media sosial, kalau mereka punya cerita, sekalipun itu cerita bohong. Banyak orang mempertahankan ide-ide buruk dengan cara bercerita. Perfilman Hollywood besar karena menggarap cerita.

13 Formula Storytelling

Berikut ini, 13 formula untuk story telling yang bisa kamu terapkan.

1. Before After Bridge

Cara bercerita ini dipakai untuk menyajikan ide baru, berbentuk solusi.

Setiap gagasan baik, memberikan solusi atau minimal memberikan metode, jalan, jembatan untuk sampai ke sana. Setiap produk juga merupakan solusi atas masalah yang dialami pengguna.

Sampaikan kondisi “before” (sebelumnya), sebagai masalah. Tunjukkan “after”, apa yang terjadi jika berhasil dipecahkan. Berikan persuasi agar mereka mau ke sana dan bertanya, memakai apa. Berikan “bridge” (jembatan) yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.

Tujuan cara bercerita ini, mengajak pembaca “sampai ke sana”, mencapai tujuan, dengan jembatan (solusi) ini.

Contoh:
Butuh waktu lama untuk bikin story dan materi promosi? Tidak perlu Photoshop, tinggal pilih mau bikin apa, langsung dari Android. Pakai Canva.

2. Problem – Agitate – Solve

Sajikan masalah. Agitasi dengan masalah (sampai mencekam, menakutkan, perlihatkan betapa pentingnya masalah ini). Setelah itu, selesaikan masalah.

Proses terpentingnya, ada pada identifikasi dan penguraian masalah.

Pada saat melakukan “agitasi” (menakut-nakuti), tunjukkan dirimu sebagai seseorang yang telah mengalami pilihan-pilihan terburuk dan tidak berhasil, dan tingkat kerugian yang [akan] dialami. Buat mereka “selesai” sebelum bertindak, sehingga akan memilih menyelesaikan dengan caramu.

Gunakan cara ini pada publik yang tidak terlalu tahu masalah yang mereka hadapi.

Contoh:
Pernah merasakan sulitnya mencari penginapan terdekat dan langsung bisa booking dari Android? Salah pilih, momen liburan kamu bisa hancur, lebih banyak keluar biaya ekstra, dan hanya mengenang pengalaman buruk. Jika bertemu, selain booking penginapan, bisakah kamu berbicara langsung dengan customer service atau melihat kondisi kamarmu secara live? Sebagai vlogger acara jalan-jalan, saya andalkan aplikasi ini, yang mengubah pengalaman jalan-jalan menjadi momen menyenangkan.

3. Feature – Advantage – Benefit

Gambarkan fitur dengan fakta dan karakter. Andalan cara bercerita ini adalah pemaparan fitur dan keuntungan, secara rasional.

Apa yang dilakukan fitur ini (bukan yang dilakukan produk ini)? Mengapa perlu meraih keuntungan yang ada?

Cara bercerita ini, membujuk orang untuk ikut atau beli, tetapi ditutupi dengan “dapatkan keuntungan yang kamu raih nanti”.

Orang tidak membeli produk, tetapi membeli keuntungan-memakai produk ini.

Kebanyakan produk kosmetika, menggunakan cara bercerita ini. Mereka memberikan deskripsi mulai dari pemakaian bahan alami, non-alkohol, berlabel “halal”, aman untuk kulit, dst. Mulai dari pemaparan, menggunakan argumentasi rasional, pengalaman pemakai, sampai demonstrasi (walaupun hanya berupa simulasi), sampai menunjukkan keberhasilannya “seketika”.

4. Struktur 3 Tindakan: Setup, Konfrontasi (Konflik), Resolusi

Ini sudah umum terjadi di semua cerita fiksi, drama, film.

Hampir setiap cerita di film berawal dari “setup” (memasang) keadaan, di mana masalah datang. Tidak ada konflik, tidak ada cerita, tanpa masalah. Kemudian ada resolusi. Iklan radio, yang masih ditiru oleh televisi, memakai cara ini juga: 1 orang bermasalah, datang kawannya lalu berdebat sebentar, terus diberi pemecahan.

5. Perjalanan Pahlawan: Separation, Supreme Ordeal, Unification

Secara ringkas, ini bentuk penceritaan tentang #epos Sang Pangeran yang [terpaksa] keluar dari istana, bertarung melawan monster, lalu mencapai kemenangan (bersatu-kembali dengan rakyatnya).

Cerita-cerita HC. Anderson atau perjuangan tokoh legendaris, menggunakan momen ini.

Yang disebut cerita, itu seputar perjuangannya melawan, rintangan suka-duka, termasuk perubahan karakter (dari biasa menjadi sakti).

Film LotR (Lords of the Ring), misalnya, kalau disingkat, hanya berisi konspirasi antara ras elf, dwarf, hobbit, manusia, dan penyihir Gandalf, untuk sebuah agenda: membuang cincin. Menariknya, ada momen perang melawan Sharuman, sampai akhirnya Sang Raja kembali. Mata penonton lebih melek karena imajinasi tentang ras selain manusia, serunya adegan perang, dan ketegangan membuang cincin.

6. Struktur 5 Tindakan

Struktur 5 tindakan terdiri dari: exposition, action, conflict, climax, dan denouement.

Struktur 5 tindakan diawali dengan pemaparan, pengenalan tokoh atau situasi. Kemudian ada tindakan yang muncul atau mengarah kepada konflik. Setiap konflik pasti ada klimaks. Bukan soal menang siapa, tetapi bagaimana setelahnya. Ada klimaks yang berupa titik-balik yang merubah #nasib tokoh utama. Bagian terakhirnya berupa dénouement, yaitu kondisi normal setelah konflik terselesaikan.

Model bercerita seperti ini, sangat klasik, terlalu panjang, dan kurang disukai. Terlalu banyak contoh.

7. Simon Sinek: Why, How, What

Pola bercerita ini untuk menyingkap “alasan” di balik apa yang tampak.

Orang melihat “apa”, lalu mengamatinya lebih dalam “bagaimana” itu terjadi, baru akhirnya mengerti “mengapa” (motivasi, latar belakang, ada apa sebenarnya) di balik semua ini. “Why” ada di lingkaran paling dalam. “What” ada di lingkaran paling luar, kulitnya, yang pertama kali membuka cerita atau dibaca orang.

Contoh:
Jika kamu beli 1 sepatu (yang harganya agak mahal ini), sama dengan kamu ngasih sepatu murah gratisan ke korban bencana. Kami sisihkan 50% keuntungan untuk korban bencana. Peduli sejak sekarang, orang lain lebih membutuhkan uluran tanganmu.

Buat orang melihat sisi luar, kemudian bertanya bagaimana itu bisa terjadi, dan mengapa ada yang mau melakukannya.

Yang penting, jangan memasang jebakan betmen (click-bait). Jangan menuliskan teks seperti: “Anda akan terkejut jika..” atau “Nomor 3 membuat netizen tercengang..:.

8. Dale Carnegie: Incident, Action, Benefit

Dale Carnegie punya rumusan bercerita yang sederhana: incident, action, dan benefit.

Ada kejadian apa, tindakannya bagaimana, dan apa untungnya. “Insiden” apa yang menginspirasi tujuanmu? “Action” (tindakan) apa yang kamu ingin agar orang lain melakukan? Apa keuntungan (benefit) bagi pembaca untuk melakukan sepertimu?

Contoh:
"Sebulan yang lalu saya melihat seorang ibu menangis karena anaknya terlambat ditangani. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Selama 2 bulan saya mengerjakan aplikasi Android ini, untuk rumah sakit, agar pasien dari puskesmas bisa langsung registrasi tanpa menunggu. Download di sini."

9. Gaya Datar Pixar

Pixar punya pola bercerita, seperti dalam paragraf ini:

Pada zaman dahulu kala, ada ……. Setiap hari ……. Pada suatu hari ……. Karena itulah ……. Dan karena itu pula ……. Sampai akhirnya ……..

Pada pola penceritaan di atas, selalu berawal dari keadaan yang normal, rutinitas, betapa menyenangkan. Keadaan ini kemudian terpecahkan karena adanya suatu kejadian mengejutkan. Baru kemudian menyingkap sisi “why” (mengapa), konflik, dan berakhir menyenangkan.

Di film Wall-E, diceritakan tentang keadaan “normal” robot yang bekerja menata sampah. Bumi, di film ini, sudah tidak ada tanaman. Manusia sudah pindah ke luar angkasa. Satu-satunya tanaman yang masih ada hanyalah sebuah pohon di dalam sepatu. Masalah datang ketika bumi akan dihancurkan robot jahat. Sepanjang film, berisi perjuangan menyelamatkan tanaman ini.

Film produksi Pixar: Toy Story, Up, Brave, Wall-E, Finding Nemo, Ratatouille, Finding Dory, dll., menggunakan pola penceritaan ini.

10. Sulapan: Pledge – Turn – Prestige

Formula ini dari film “Prestige”. Untuk mengingat pola bercerita yang ini, lihatlah adegan sulap.

Janjikan sesuatu yang luar biasa, tetapi tampilkan yang biasa-biasa saja. Bikin orang bosan dan menunggu. Ambil sesuatu yang sangat biasa, lakukan dengan cara yang luar biasa. Hilangkan sesuatu. Terakhir, pada tahapan “prestige”, kembalikan apa yang sudah hilang.

Adegan ini sering kita temui: pesulap menghilangkan burung di dalam topi, lalu ia munculkan-kembali. Orang masuk dari kotak A, keluar di kotak B (dalam film ini, dengan bantuan Nikolai Tesla, pesulap bisa menggandakan-diri.).

Model penceritaan “Prestige” ini, menekankan pentingnya momen “harapan” dan “kehilangan”.

Dalam keadaan “menunggu” dan tidak tahu solusi paling tepat, orang menunggu sosok yang diharapkan. Apapun namanya itu. Atau minimal dikait-kaitkan dengan apa yang telah hilang dari masa lalu, entah itu bernama “ksatria terpilih”, titisan, atau “tanah yang dijanjikan”.

Cerita bisa menjadi cerita, dalam pola ini, jika yang tadinya “normal” tiba-tiba menghilang. Apa yang terjadi jika keadaan yang tenang di laut, tiba-tiba kacau karena ulah orang-orang di daratan? Film-film dystopian, appolacallyptic, dan janji penuh harapan, menggunakan pola penceritaan “Prestige”.

11. Elon Musk

Elon Musk punya formula bercerita, dengan pola begini:

Namai musuhmu – Mengapa terjadi sekarang? – Seperti apa masa depan yang mau kita capai? – Kendalanya apa – Menangkan mereka dengan bukti.

Setiap presentasi, atau bercerita, orang bisa mengawali dengan memberikan nama pada masalah atau “musuh”. Ajak orang menyadari bahwa ini adalah masalah bersama. Penyadaran ini berupa penyingkapan pengetahuan, kesadaran historis, dengan satu kalimat sakti: mengapa [terjadi, atau akan kita lakukan] sekarang? Tidak langsung kepada solusi, tetapi jelaskan dulu, seperti apakah masa depan yang akan diraih. Masa depan juga punya masalahnya sendiri. Yang penting, ajak orang bermimpi tentang keadaan yang lebih baik. Jelaskan seperti apa kendalanya. Benar, ini bagus, tetapi tidak mudah. Maukah kita bersama-sama mencapainya? Setelah itu, menangkan mereka, dengan bukti. Kamulah yang bisa. Tunjukkan potensi. Biarkan mereka melakukan.

Dalam penceritaan Elon Musk, cobalah tidak menyimpulkan. Tugasmu memberi inspirasi, agar mereka bertindak. Memberitahukan seperti apa “masalah” sesungguhnya, serta opsi apa saja yang terdapat dari masa depan. Orang akan memutuskan sebaiknya bagaimana.

Model penceritaan ini, sering kita temui di presentasi TED. Setiap menonton video di TED yang saya pilih, saya sering terkejut dengan cara mereka memandang dunia. Banyak masalah-masalah baru atau peluang untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

12. 5 V Colin Theriot

Verify, Validate, Vantage, Value, Villains.

Pada awalnya, lakukan verifikasi. Ajak orang memverifikasi apa yang sudah mereka lihat, dengar, observasi, atau pikirkan. Kalau perlu, tarik perhatian, agar mereka melihat masalah lebih dekat, ubah sudut pandangnya lebih dahulu. Ini seperti mengidentifikasi masalah yang sesungguhnya.

Setelah ketemu, langkah berikutnya adalah memvalidasi emosi mereka ke arah rangsangan ini. Katakan bahwa reaksi internal mereka ini benar dan sah. Mereka boleh marah, boleh ingin, boleh menolak, boleh serakah. Pada publik di media sosial, “pembenaran” sering terjadi. Kata-kata sarkas, emosi negatif, banyak ditemukan, menjadi “sah” asalkan mereka punya alasan bertindak dengan “maksud baik”.

Tahapan berikutnya adalah “vantage”. Ini langkah yang sulit dilakukan. Vantage adalah posisi menguntungkan, memerintah, memberikan perspektif, dan pandangan mendalam.

Gunakan informasi yang sudah ramai itu, untuk menyisipkan informasi yang ingin kamu bicarakan. Proses berikutnya adalah menampilkan “value” (nilai).

Apakah nilai itu? Fungsi, kegunaan, manfaat, keuntungan, ukuran nominal, dll. Bagikan nilai yang kamu dan audien sama-sama miliki.

Pada bagian akhir, mencapai “villains” (musuh). Serang musuh bersama adalah agenda terakhir.

Tujuan bercerita ini menginspirasi dan mengajak bertindak. Namun, jangan katakan mereka harus bagaimana.

5 V Colin Theriot sering kita temukan dalam bentuk-bentuk agitasi dan propaganda politik.

Lihatlah bagaimana politik menceritakan betapa pentingnya dirinya, kemudian memvalidasi emosi publik melalui meme, video hujatan, dll. Bahkan bungkus mereka adalah visi misi yang luar biasa, dalil dari agama kalau perlu, singkap biografi para tokoh pendukung, demi satu hal: tindakan ini sah dan harus didukung massa. Ada issue apapun, perlu ditumpangi.

Naikkan elektabilitas sekalipun menebarkan hoax, yang penting musuh dan “para penonton” membahas tindakan ini. Jika energi publik sudah besar, carilah musuh bersama.

Sayangnya, musuh bersama yang semula berupa ketidakadilan, kemiskinan, dll., sering berubah menjadi “person” (seseorang) atau lembaga.

13. Walt Disney: dari Terpisah sampai Pulang ke Rumah

Separation – Crisis – Conflict – New Personality – Back to Home.

Walt Disney menggunakan format ini, dan masih digunakan sampai sekarang.

Film-film Disney seperti: Mulan, Frozen, Zootopia, Finding Nemo, Mulan, Aladdin, Beauty and the Beast, dan Tarzan, memakai pola ini. Termasuk Pirates of Caribbean dan X-Men.

Ada seorang anak yang terpisah dari rumahnya, entah karena jenuh, tersesat, tersihir, merasa bersalah, atau dikucilkan, lalu jauh dari rumahnya. Kemudian mengalami krisis dan mendapat musuh baru. Krisis membuatnya memperoleh “dunia” dan “kepribadian” baru yang lebih tangguh dan keren. Endingnya, mereka bisa kembali ke rumah atau membangun rumah baru. Tarzan tidak kembali ke Inggris, tetapi memilih hutan. Frozen tetap happy ending.

——-

Elaborasi dalam Story Telling (Bercerita)

Cerita, berita, tawaran, gagasan, baru menarik jika memiliki 4 indikator berikut: berguna, harus sekarang, unik, dan sangat spesifik.
Berguna masih belum cukup kalau tanpa “harus sekarang”. Bagus belum cukup kalau masih nggak unik.

Bagaimana Agar Tulisan Menjadi Unik?

Tulisan bisa menjadi unik jika punya 4 unsur berikut:

  • Menyajikan “data terbaru”. Setiap browsing atau menelisik sumber kejadian, masukkan pertanyaan ini dalam daftar, “Data kapan ini?”. Cari data terbaru.
  • Berasal dari “pengalaman” di lapangan. Biarpun kamu mengkritik brand terkenal, pendapatmu tetap lebih kuat, jika bisa menunjukkan screenshot atau video di mana brand itu bermasalah.
  • Mengajukan permasalahan baru. Jika bukan masalah baru, tidak akan menarik perhatian.
  • Punya pemecahan yang lebih baik, walaupun masalahnya lama.
Contoh: 
Mahal di Apple, sekarang downloadable di PlayStore. Editor video ini gratisan, tanpa watermark, tanpa perlu upgrade. Bisa untuk live report, hasil HD, lebih keren dari Story di Instagram. Proses render secepat save file. Sampai sekarang belum ada tutorialnya. Download MOCR. https://bit.ly/2ru9GWK

Format “AFOREST” untuk Menulis Artikel

Saya tidak berbicara “bagaimana” menulis artikel di sini, tetapi “bentuk” penyampaian artikel, dalam format bercerita. Cobalah format AFOREST.

AFOREST: Alliteration, Facts, Opinion, Repetition, Example, Statistics, dan Threes.

  • Sajikan fakta lebih dulu. Ini bisa berupa “lead” (awal tulisan) yang berupa kutipan (quote), misalnya mengutip peristiwa yang diberitakan. Bisa jadi bukan 1 tetapi 2 atau 3, berbentuk kronologi.
  • Setelah itu, sajikan opini, jangan dari 1 sumber, karena harus berimbang. Yang terpenting, ceritakan, mengapa sampai terjadi pendapat demikian.
  • Kalau sudah ditemukan “genealogi” (proses pembentukan) pendapat ini, lakukan pengulangan. Tujuan pengulangan ini adalah menampilkan pola. Otak manusia menyukai pola.
  • Berikan contoh-contoh.
  • Tunjukkan data-data yang relevan dari sumber terpercaya. Sampai di sini, sebenarnya sudah menjadi tulisan.
  • Jika diulang-ulang sampai 3 kali, atau lebih, pola ini bisa dipakai sebagai “listicle” (artikel berbentuk daftar).

Mengaktifkan Emosi Negatif

Emosi negatif, sangat baik untuk mengaktivasi pikiran pembaca. Bukan sekadar flaming (membakar), tetapi yang bisa menjawab “emosi negatif”. Dengan cara yang sama, pada saat menulis atau bercerita, lakukan penyuntingan sebagai seorang pembaca yang mempertanyakan tulisan ini, dengan “emosi negatif”.

Bagaimana kalau saya mau mengukur berdasarkan emosi negatif terhadap tulisan ini?

Cara lain untuk mengukur kualitas tulisan adalah dengan mengajukan 5 penolakan:

  1. “Saya tidak punya waktu.”
    Ini berarti, tulisan sebaiknya to the point, tidak banyak sisipan, dan efisien.
    Tidak semua orang punya waktu, atau saat menerima tulisanmu mereka sedang otw, sibuk, atau hanya berjanji “nanti akan saya baca”. Jika demikian, pastikan tulisanmu “to the point”. Bukan berarti harus singkat. Berita, memakai piramida terbalik: sampaikan bagian penting, detailnya kemudian. Artikel, kebanyakan untuk menjawab pertanyaan. Jangan sampai terkena efek TL;DR (too long, don’t read). Berikan opsi kepada pembaca, bahwa mereka mendapatkan pembahasan yang spesifik dan semuanya penting.
    Buat tulisanmu seperti telegraf. Hanya memuat yang berguna. Pangkas, rapikan, agar orang tidak tertidur sebelum cerita selesai. Biasanya, pada setiap paragraf, saya memeriksa dengan sebuah pertanyan, “Apakah paragraf ini tweetable?”. Jika tidak bisa dijadikan twit, berarti belum ringkas dan belum bermanfaat.
  2. “Saya tidak punya uang.”
    Sediakan yang gratisan, yang bisa didapatkan dengan mudah.
    Orang lebih suka gratisan, atau diberitahu bagaimana caranya mendapatkan secara gratis. Atau jika dipaksa lagi, jangan buat orang mengeluarkan banyak biaya, banyak langkah, banyak tahapan.
  3. “Ini tidak bisa saya jalankan, hasilnya berbeda dari yang kamu tuliskan.”
    Pastikan kamu sudah menguji apa yang kamu tuliskan.Jika berupa tutorial, periksa lagi, pada lingkungan macam apa tutorial ini bisa dijalankan dan dalam kondisi apa tidak bisa dijalankan? Kata “not work!” itu menyakitkan.
  4. “Saya tidak percaya kamu.”
    Tunjukkan kemampuan. Biasanya terlihat dari bagaimana kamu memahami peristilahan, tahu apa yang kamu kerjakan.
    Agar orang percaya, tunjukkan apa yang terjadi di lapangan. Tutorial yang diberi screenshot atau video, jauh lebih meyakinkan daripada bujukan kata-kata.
  5. “Saya tidak membutuhkan tulisan ini.”
    Berikan cerita. Orang akan tertarik jika kamu mengemasnya menjadi cerita, yang bisa membujuk dan berargumentasi.
    Tulisan yang meyakinkan, selalu menyertakan fakta-fakta yang terkemas rapi. Ada sisipan QA (question-answer), infografis, atau penyematan link dari luar apa adanya.

Jika masih ada 1 pertanyaan di atas, coba perbaiki lagi. Sebelum melansir tulisan, coba baca lagi berulang-ulang. Baca dengan keras, rekam, dengarkan apakah enak jika dibaca?

——-

Serumit apapun plot, atau artikel, polanya tetap sederhana. Cara di atas dapat diterapkan pada storytelling.

Masih banyak formula lain, tergantung apa kebutuhannya. Tidak ada 1 formula yang benar-benar ketat dipakai, justru kebanyakan cara bercerita itu seringnya berupa kombinasi beberapa pola cerita. Mungkin kamu punya rumus cara bercerita sendiri. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.